- Detail
- Ditulis oleh Admin Utama
- Kategori: Berita
- Dilihat: 32
SMAN 1 Kejobong Gelar Festival Bulan Bahasa 2025, Siswa Tampil Memukau dalam Lomba Drama
Kejobong, 30 Oktober 2025 – Perpustakaan Mentari Pustaka SMA Negeri 1 Kejobong kembali memeriahkan bulan Oktober dengan menyelenggarakan Festival Bulan Bahasa 2025. Puncak acara yang paling ditunggu, yakni Lomba Drama, sukses digelar dengan penuh semangat dan antusiasme dari seluruh siswa.
Rangkaian kegiatan diawali pada pukul 07.30 WIB dengan pelaksanaan apel pagi di lapangan sekolah. Acara kemudian berlanjut dengan seremoni pembukaan di Balai Muslimin, lokasi utama kegiatan.
Pembukaan Festival Bulan Bahasa 2025 secara resmi ditandai dengan sambutan dari Ibu Isro Hartanti, S.Pd., selaku Pengawas SMA Negeri 1 Kejobong. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan secara langsung:
- “Kegiatan ini merupakan wujud dari melestarikan budaya yang ada di Indonesia, yaitu Bulan Bahasa yang bertujuan untuk menumbuhkan kreativitas dalam bahasa dan sastra.”
Sambutan tersebut menegaskan pentingnya peran bahasa dalam membentuk karakter dan identitas bangsa, serta mengapresiasi inisiatif sekolah dalam melestarikan budaya melalui kegiatan yang kreatif.
Suasana pembukaan semakin meriah dengan penampilan memukau dari ekstrakurikuler tari SMAN 1 Kejobong, yang berhasil menyuguhkan pertunjukan budaya dan seni kepada hadirin.

Penampilah salah satu peserta lomba drama
Puncak dari festival tahun ini adalah Lomba Drama yang diikuti oleh seluruh perwakilan kelas X dan XI. Lomba ini bukan sekadar ajang unjuk bakat, tetapi juga sarana edukasi yang kuat dengan mengusung tema spesifik “Etika Berbahasa Remaja”.
Pemilihan tema ini dinilai sangat relevan dengan perkembangan zaman. Para peserta menunjukkan totalitas dalam penampilan mereka. Mereka berhasil menyajikan berbagai konflik sehari-hari yang berkaitan dengan penggunaan bahasa, mulai dari bullying verbal hingga pentingnya komunikasi yang efektif dan beretika. Balai Muslimin pun menjadi saksi dari kreativitas dan kemampuan seni peran siswa-siswi SMA Negeri 1 Kejobong yang memukau.
Festival Bulan Bahasa SMAN 1 Kejobong ini diharapkan dapat menjadi agenda tahunan yang terus mendorong siswa untuk mencintai, menghargai, dan menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar, sebagaimana diikrarkan dalam Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Serta menjadi wadah untuk mengekspresikan diri secara positif dan artistik.
- Detail
- Ditulis oleh Admin Utama
- Kategori: Berita
- Dilihat: 37
Festival Bulan Bahasa SMAN 1 Kejobong 2025: Wujud Cinta Bahasa dan Sastra Indonesia
Dalam rangka memperingati Bulan Bahasa, Perpustakaan Mentari Pustaka SMA Negeri 1 Kejobong kembali menggelar kegiatan akbar bertajuk Festival Bulan Bahasa 2025. Kegiatan ini menjadi salah satu agenda tahunan sekolah yang sarat makna, bukan hanya sebagai ajang perlombaan dan kreativitas, tetapi juga sebagai wujud nyata kecintaan terhadap bahasa dan sastra Indonesia.
Festival ini dilaksanakan pada 29–30 Oktober 2025 di lingkungan SMA Negeri 1 Kejobong, bertepatan dengan momentum bersejarah Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928—sebuah tonggak penting yang menegaskan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan bangsa.
Melalui kegiatan ini, sekolah berupaya menanamkan nilai-nilai nasionalisme dan kecintaan terhadap bahasa kepada seluruh peserta didik. Bahasa tidak hanya dipandang sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai simbol persatuan, cermin budaya, dan identitas bangsa Indonesia yang luhur.
Tujuan utama dari pelaksanaan Festival Bulan Bahasa adalah menumbuhkan semangat literasi, meningkatkan kemampuan berbahasa dan bersastra, serta mengembangkan kreativitas siswa dalam mengekspresikan gagasan, ide, dan perasaan melalui karya tulis, seni, serta berbagai bentuk kegiatan kebahasaan.
Selain itu, kegiatan ini juga menjadi sarana pembelajaran kontekstual yang mengintegrasikan nilai-nilai akademik, karakter, dan budaya. Siswa tidak hanya belajar melalui teori di kelas, tetapi juga melalui praktik nyata dalam berbagai perlombaan dan proyek literasi yang diselenggarakan.
Berbagai lomba menarik turut memeriahkan perayaan Festival Bulan Bahasa 2025. Setiap kegiatan dirancang untuk menggali potensi siswa, memperkuat rasa kebersamaan, dan menumbuhkan semangat kompetisi yang sehat.
Berikut lomba yang dilaksanakan:
- Lomba Drama, yang menampilkan kemampuan siswa dalam berakting, bekerja sama dalam tim, serta menafsirkan karya sastra ke dalam bentuk pertunjukan yang hidup dan bermakna. Lomba ini menjadi ajang apresiasi seni peran sekaligus wadah ekspresi bagi siswa untuk menyampaikan pesan moral dan nilai budaya melalui bahasa tubuh dan dialog yang kuat.
- Lomba Baca Puisi, yang menjadi wadah bagi siswa untuk menyalurkan ekspresi artistik dan kemampuan vokal dalam menghidupkan makna puisi. Dalam lomba ini, siswa ditantang untuk membacakan karya sastra dengan penjiwaan, penghayatan, dan teknik vokal yang baik, sehingga pesan dan emosi puisi dapat tersampaikan kepada pendengar dengan penuh makna.
- Lomba Poster Literasi, yang menggabungkan kreativitas visual dengan pesan moral tentang pentingnya membaca dan menulis.
- Lomba Pojok Baca Antar Kelas, yang tahun ini menjadi salah satu kegiatan unggulan dan paling menarik perhatian.

Salah satu peserta lomba puisi dari kelas XI A
Lomba pojok baca dirancang sebagai bentuk nyata dari semangat literasi dan kolaborasi antarsiswa. Setiap kelas berkompetisi menampilkan hasil karya berupa pojok baca dengan tema, konsep, dan dekorasi unik. Pojok baca tidak hanya berisi buku-buku bacaan, tetapi juga memamerkan hasil karya kokurikuler setiap mata pelajaran seperti artikel, esai, infografis, dan proyek literasi yang dihasilkan oleh siswa selama kegiatan belajar.
Penilaian lomba pojok baca dilaksanakan pada 29 Oktober 2025 dengan menghadirkan tim juri yang berkompeten di bidangnya, yakni Ibu Winda, Ibu Wahyu, dan Ibu Sabar Asih. Ketiga juri menilai berdasarkan beberapa aspek penting, antara lain:
- Kreativitas dan Estetika: bagaimana siswa menata, menghias, dan menampilkan pojok baca secara menarik dan inovatif.
- Kelengkapan dan Keberagaman Isi: mencakup jenis buku, karya literasi, serta hasil proyek dari berbagai mata pelajaran.
- Nilai Edukatif dan Literatif: sejauh mana pojok baca dapat menumbuhkan minat baca dan semangat belajar bagi siswa lain.
- Kerja Sama dan Keterlibatan Kelas: menunjukkan bagaimana seluruh siswa turut berpartisipasi aktif dalam pembuatan pojok baca.
Proses penilaian berlangsung dengan semangat sportif dan penuh antusiasme. Setiap kelas berupaya menampilkan yang terbaik, menjadikan ruang kelas mereka sebagai etalase literasi yang hidup dan inspiratif.

Salah satu foto pojok baca di kelas
Melalui kegiatan ini, diharapkan seluruh siswa SMAN 1 Kejobong semakin termotivasi untuk mengembangkan budaya literasi di lingkungan sekolah. Pojok baca bukan sekadar pajangan buku, tetapi juga menjadi simbol semangat belajar yang tidak pernah padam.
Budaya literasi di sekolah bukan hanya tentang membaca buku, melainkan juga tentang menumbuhkan rasa ingin tahu, kemampuan berpikir kritis, serta kebiasaan untuk menulis dan berdiskusi. Festival Bulan Bahasa menjadi momentum penting untuk memperkuat budaya tersebut.
Pojok baca yang dibuat siswa diharapkan terus berfungsi setelah lomba berakhir. Guru dan siswa bersama-sama dapat menjadikannya ruang belajar alternatif—tempat membaca, berdiskusi, atau menulis karya sederhana yang mencerminkan semangat kebersamaan.
Sebagai bagian dari peringatan Bulan Bahasa, kegiatan ini mengingatkan seluruh warga sekolah akan peran penting bahasa Indonesia sebagai alat pemersatu bangsa. Di tengah perkembangan teknologi dan arus globalisasi, generasi muda diharapkan mampu menjaga dan menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar tanpa meninggalkan nilai-nilai budaya yang melekat di dalamnya.
Bahasa Indonesia bukan hanya alat komunikasi, melainkan juga cerminan dari cara berpikir dan bertindak masyarakatnya. Ketika siswa mampu menggunakan bahasa secara santun, logis, dan kreatif, hal itu menunjukkan kedewasaan berpikir dan rasa cinta terhadap tanah air.
Melalui kegiatan ini pula, SMAN 1 Kejobong menanamkan nilai-nilai nasionalisme, kebersamaan, dan tanggung jawab terhadap pelestarian bahasa. Para siswa belajar bahwa mencintai bahasa Indonesia berarti juga mencintai bangsanya sendiri.
Keberhasilan Festival Bulan Bahasa tidak lepas dari kerja sama antara tim GLS, guru dan siswa. Para guru berperan sebagai pembimbing yang memberikan arahan, motivasi, dan dukungan kepada peserta didik. Sementara itu, siswa menjadi motor penggerak utama yang mewujudkan ide dan kreativitas mereka dalam berbagai bentuk karya.
Sinergi antara guru dan siswa tampak nyata dalam setiap persiapan lomba. Mulai dari merancang konsep pojok baca, menulis puisi, berlatih pidato, hingga mendesain poster literasi, semuanya dilakukan dengan semangat gotong royong.
Guru Bahasa Indonesia berperan penting dalam mengawal kegiatan ini agar tetap berorientasi pada nilai-nilai literasi yang bermakna. Di sisi lain, dukungan dari seluruh guru mata pelajaran juga memperkaya isi kegiatan, karena setiap mata pelajaran berkontribusi dalam menampilkan hasil karya kokurikuler yang relevan dengan tema kebangsaan.
Sejak awal pelaksanaan, suasana sekolah tampak semarak. Setiap sudut kelas dihiasi warna-warni kreativitas siswa. Ada kelas yang menampilkan pojok baca bertema alam, ada pula yang mengangkat tema budaya lokal, hingga sastra klasik.
Antusiasme siswa terlihat dari kerja sama mereka dalam menghias, menulis, dan menyusun tampilan pojok baca seindah mungkin. Tidak sedikit pula yang menambahkan sentuhan artistik seperti puisi dinding, lukisan tokoh sastra, dan kutipan inspiratif tentang bahasa.
Para juri mengapresiasi semangat dan usaha siswa yang luar biasa. Mereka menilai bahwa kegiatan ini bukan hanya tentang perlombaan, tetapi juga tentang proses belajar dan kebersamaan. “Pojok baca menjadi ruang di mana kreativitas dan semangat literasi bertemu,” ujar salah satu juri.
Tema Bulan Bahasa Nasional yang diusung tahun ini adalah “Bahasa Indonesia Berdaulat, Indonesia Maju”. Tema ini menegaskan bahwa Bahasa Indonesia sebagai penggerak peradaban dan kemajuan bangsa, serta menjadi momentum untuk memperkuat ekosistem sastra nasional.
Setiap kata dalam bahasa Indonesia menyimpan sejarah dan makna yang mengikat kita sebagai satu bangsa. Oleh karena itu, menjaga bahasa berarti menjaga warisan budaya. Melalui penggunaan bahasa yang baik dan benar, kita turut berperan dalam menjaga martabat bangsa di mata dunia.
Festival Bulan Bahasa menjadi momentum bagi generasi muda untuk memahami filosofi ini secara mendalam. Dengan menulis, membaca, dan berkarya dalam bahasa Indonesia, mereka turut melanjutkan perjuangan para pemuda tahun 1928 yang telah mengikrarkan sumpah untuk menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.
Festival Bulan Bahasa bukan sekadar ajang perlombaan, tetapi juga ruang pembelajaran yang mendalam tentang nilai-nilai kehidupan. Dari setiap lomba, siswa diajak untuk berpikir kritis, berimajinasi, dan mengekspresikan diri secara positif.
Bahasa mengajarkan ketepatan berpikir, sementara sastra menumbuhkan kepekaan rasa. Ketika keduanya berpadu, lahirlah pribadi yang cerdas dan berkarakter. Melalui kegiatan seperti ini, SMAN 1 Kejobong berupaya menyiapkan generasi yang tidak hanya unggul dalam akademik, tetapi juga berbudaya, berempati, dan beridentitas kuat.
Sastra memberi ruang bagi siswa untuk memahami kehidupan dari berbagai sudut pandang. Puisi, cerpen, dan esai yang mereka tulis bukan hanya karya tulis biasa, melainkan refleksi dari nilai-nilai kemanusiaan, kebangsaan, dan keindahan berpikir.
Kegiatan Festival Bulan Bahasa diharapkan dapat menjadi tradisi yang terus dilestarikan di SMAN 1 Kejobong. Ke depan, sekolah berencana mengembangkan kegiatan ini dengan skala yang lebih luas, melibatkan komunitas literasi, alumni, serta masyarakat sekitar.
Selain itu, sekolah juga berkomitmen untuk menjadikan literasi sebagai bagian dari budaya sekolah. Dengan dukungan seluruh warga sekolah, pojok baca dan kegiatan literasi akan terus dikembangkan agar menjadi pusat kegiatan belajar yang menyenangkan.
Harapannya, dari kegiatan ini lahir generasi muda yang mampu berpikir kritis, berbahasa dengan santun, dan berperilaku bijak. Mereka tidak hanya menjadi pengguna bahasa, tetapi juga penjaga warisan budaya bangsa.
Festival Bulan Bahasa SMAN 1 Kejobong 2025 bukan hanya perayaan seremonial, melainkan juga bentuk nyata komitmen sekolah dalam menumbuhkan cinta terhadap bahasa dan sastra Indonesia. Melalui kolaborasi, kreativitas, dan semangat literasi, kegiatan ini menjadi cerminan bahwa bahasa Indonesia akan terus hidup dan berkembang seiring langkah generasi muda yang mencintainya.
Sebagaimana makna dari kalimat ini : “Bahasa adalah jiwa bangsa, dan literasi adalah nafasnya.”
Dengan semangat itu, Festival Bulan Bahasa menjadi bukti bahwa cinta terhadap bahasa Indonesia bukan hanya diucapkan, tetapi diwujudkan dalam tindakan nyata—melalui karya, pembelajaran, dan pengabdian.
- Detail
- Ditulis oleh Admin Utama
- Kategori: Berita
- Dilihat: 59
Perkuat Keterampilan Bahasa Inggris, SMA Negeri 1 Kejobong Sambut Tamu Istimewa dari Negeri Kincir Angin.
Oleh Tim Jurnalistik SMA Negeri 1 Kejobong
(Kejobong, 25 September 2025) – Suasana SMA Negeri 1 Kejobong pada hari kamis benar-benar berbeda dari biasanya. Event rutin Kamis Inspirasi kali ini sukses membawa atmosfer globalisasi langsung ke tengah-tengah siswa. Sekolah kedatangan tamu spesial, seorang traveler asal Belanda bernama Mr. Gjjs Franssen, yang sedang asyik berkeliling Indonesia selama tujuh bulan. Wah, seru banget, kan?
Bukan Sekadar Nilai, Tapi Bekal Hadapi Globalisasi
Acara dibuka dengan sambutan hangat dari Kepala Sekolah, Bapak Bambang Yuniarto, S.Pd., M.M. Beliau langsung membakar semangat siswa dengan menekankan pentingnya belajar bahasa asing di era globalisasi.
“Anak-anak harus semakin semangat mempelajari bahasa asing, khususnya bahasa Inggris. Saat ini banyak perusahaan menuntut keterampilan berbahasa Inggris sebagai syarat utama. Jadi, menguasai bahasa asing bukan hanya untuk nilai di sekolah, tapi juga sebagai bekal menghadapi persaingan global,” ujar Bapak Bambang, menanamkan kesadaran akan masa depan.
Setelah sambutan yang memotivasi, acara makin meriah. Siswa-siswi ekskul tari tampil memukau dengan tarian tradisional yang khas, “Dawet Ayu Banjarnegara”. Suasana panggung semakin kental dengan nuansa internasional saat pertunjukan puisi berbahasa Inggris sukses memukau para hadirin.
Tips Belajar dan Interaksi Guru
Bagian yang paling ditunggu akhirnya tiba: diskusi interaktif bersama Mr. Gjjs Franssen. Dipandu oleh dua siswa perwakilan English Club, diskusi berlangsung santai, seru, dan penuh semangat. Antusiasme peserta terlihat jelas.
Dalam sesi tersebut, Mr. Gjjs berbagi banyak tips praktis tentang cara belajar bahasa Inggris yang efektif. Menurutnya, langkah pertama adalah mengenal kosakata sederhana, lalu perlahan naik ke tingkat yang lebih kompleks. Selain itu, ia juga menyarankan siswa untuk:
- Memanfaatkan media sosial sebagai sarana belajar yang menyenangkan.
- Berani mencoba berbicara tanpa pernah takut salah.
Sesi tanya jawab tak hanya diramaikan siswa. Beberapa guru juga turut berinteraksi dengan Mr. Gjjs, baik untuk mendalami metode mengajar maupun bertukar pengalaman seputar bahasa dan budaya. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan ini menjadi ajang pengembangan diri bagi seluruh staf pendidik.
Ketika ditanya siswa tentang cara mudah mengingat kosakata, Mr. Gjjs memberikan solusi yang simple tapi kuat:
“Kuncinya adalah mengulang-ulang kosakata yang sudah dipelajari dalam kegiatan sehari-hari. Semakin sering digunakan, semakin mudah diingat,” jelasnya.

Siswa memandu acara talk show dengan narasumber Mr. Gjjs Franssen (Dokumentasi Sekolah)
Pengalaman Berharga yang Bikin Percaya Diri
Impact positif acara ini dirasakan langsung oleh peserta. Hal ini terlihat dari komentar salah satu peserta, Yuan, siswa kelas X C.
“Menurut saya acara ini keren banget. Bisa langsung ngobrol sama orang luar negeri bikin saya jadi lebih percaya diri untuk berani mencoba bahasa Inggris. Saya jadi termotivasi untuk lebih rajin belajar,” ungkap Yuan dengan penuh semangat.
Acara ditutup dengan momen hangat, yaitu pemberian cinderamata spesial berupa lukisan potret karya siswa SMA Negeri 1 Kejobong untuk Mr. Gjjs. Beliau tampak sangat senang dan berterima kasih atas sambutan hangat dari keluarga besar sekolah.
Kegiatan Kamis Inspirasi kali ini sukses besar. Tidak hanya memberi pengalaman seru, tetapi juga membawa pesan penting bagi seluruh warga sekolah.
“Mari kita jadikan pengalaman hari ini sebagai motivasi. Jangan ragu untuk terus belajar dan berlatih bahasa Inggris setiap hari, karena dengan penguasaan bahasa asing, kalian bisa membuka lebih banyak peluang dan meraih cita-cita setinggi mungkin,”

Kepala SMA Negeri 1 Kejobong Bapak Bambang Yuniarto, S.Pd.,M.M. memberikan sambutan (dokumentasi sekolah)
- Detail
- Ditulis oleh Admin Utama
- Kategori: Berita
- Dilihat: 46
Go Local, Go Cuan! Aksi Kewirausahaan SMA Negeri 1 Kejobong
Oleh Tim Jurnalistik SMA Negeri 1 Kejobong
Kejobong, 30 September 2025– Suasana lapangan basket SMA Negeri 1 Kejobong pada hari selasa benar-benar pecah! Seluruh warga sekolah tumpah ruah dalam gelaran Selasa Kearifan Lokal dan Kewirausahaan yang berlangsung meriah. Bukan sekadar rutinitas, kegiatan ini menjadi ajang bagi siswa kelas X (A hingga H) untuk mengasah skill wirausaha sekaligus melestarikan budaya.
Inovasi Lokal, Bahan Baku Melimpah di Daerah
Sesuai tema kearifan lokal, siswa ditantang untuk mengolah bahan baku lokal yang melimpah di Kecamatan Kejobong dan sekitarnya, seperti singkong dan pisang. Hasilnya? Luar biasa!
Aneka street food tradisional disulap menjadi produk modern, mulai dari singkong keju meleleh, getuk dengan topping kekinian, hingga keripik pisang aneka rasa. Tak hanya siswa kelas X–XII yang antusias, para guru pun ikut berburu dan memborong dagangan, menunjukkan dukungan penuh terhadap kreativitas kuliner lokal.
Egrang dan Fun Games Bikin Semua Happy
Kegiatan ini tidak hanya fokus pada perut, tetapi juga pada kehangatan tradisi. Di sudut lapangan, suasana makin seru ketika para siswa dan bahkan beberapa guru tampak asyik menguji keseimbangan dengan Egrang. Gelak tawa pun pecah saat mereka bersama-sama memainkan Kucing dan Tikus, sebuah permainan rakyat yang sukses menghidupkan memori masa kecil dan menjalin interaksi akrab antargenerasi.

Kepala SMA Negeri 1 Kejobong Bapak Bambang Yuniarto bersama beberapa siswa menunjukan Egrang (Dokumentasi Sekolah)
Tantangan Kepala Sekolah: Dari Jualan ke Branding
Kepala SMA Negeri 1 Kejobong, Bapak Bambang Yuniarto, S.Pd., M.M., berkeliling lapangan, memberikan apresiasi tinggi atas semangat wirausaha siswa. Namun, beliau juga memberikan challenge sekaligus motivasi keras.
"Saya mengapresiasi kreativitas hari ini. Namun, siswa ekstrakurikuler Tata Boga dan Kewirausahaan harus berani membuat inovasi baru, bukan hanya menjual, tapi juga belajar menghitung modal, keuntungan, dan branding produk.”
Beliau menekankan bahwa ajang ini adalah simulasi nyata agar siswa memiliki bekal yang kuat saat terjun ke dunia usaha kelak.
Kegiatan Selasa Kearifan Lokal dan Kewirausahaan ini telah membuktikan bahwa pembelajaran di sekolah bisa menyenangkan, sekaligus efektif dalam menanamkan nilai-nilai budaya dan keterampilan praktis.
“Ini adalah investasi terbaik bagi generasi muda SMA Negeri 1 Kejobong yang Go Local dan Go Entrepreneur!”

Kepala SMA Negeri 1 Kejobong Bapak Bambang Yuniarto Memberikan Apresiasi dan Saran Kepada Peserta Bazar (Dokumentasi Sekolah)
- Detail
- Ditulis oleh Admin Utama
- Kategori: Berita
- Dilihat: 57
World Cleanup Day SMA Negeri 1 Kejobong, Aksi Nyata Bukan Seremoni
Oleh: Tim Jurnalis SMA Negeri 1 Kejobong
Jumat, 19 September 2025 – Hari ini, seluruh warga SMA Negeri 1 Kejobong turut serta dalam perayaan Hari Kebersihan Sedunia (World Cleanup Day) yang penuh semangat. Kegiatan ini bukan sekadar rutinitas membersihkan, melainkan sebuah komitmen kolektif untuk menciptakan lingkungan yang lebih baik. Gerakan ini diharapkan menjadi inspirasi bagi masyarakat luas, menunjukkan bahwa perubahan besar bisa dimulai dari hal-hal kecil di sekitar kita.

Kepala SMA Negeri 1 Kejobong bapak Bambang Yuniarto, S.Pd.,M.M. memberikan arahan kepada siswa (Dokumentasi Sekolah)
Komitmen Kuat dari Pimpinan Sekolah
Acara dibuka dengan sambutan hangat dari Kepala Sekolah, Bapak Bambang Yuniarti, S.Pd., M.M. Dalam pidatonya, beliau menekankan bahwa kebersihan adalah cerminan dari karakter dan tanggung jawab. “Menjadikan lingkungan kita bersih bukan hanya tugas, melainkan inspirasi. Aksi kita hari ini adalah bukti nyata bahwa kolaborasi bisa melahirkan solusi efektif untuk masalah sampah,” ujar Bapak Bambang. Beliau juga mengajak seluruh siswa, guru, dan staf untuk terus mencari solusi kreatif dalam menanggulangi sampah, menjadikan sekolah sebagai pusat inovasi lingkungan.
Kolaborasi dan Aksi Nyata Tiap Kelas
Untuk memastikan efektivitas, kegiatan ini dirancang dengan pembagian tugas yang terstruktur. Setiap kelas memiliki area tanggung jawab masing-masing, mulai dari membersihkan ruang kelas, taman sekolah, lingkungan sekitar sekolah, hingga area kantin. Pembagian tugas ini melatih siswa untuk bekerja sama dan merasa memiliki tanggung jawab penuh terhadap kebersihan di lingkungan mereka.

Siswa bekerja sama membersihkan lingkungan sekitar sekolah (Dokumentasi Sekolah)
Menerapkan Gaya Hidup Zero Waste
Yang membuat SMAN 1 Kejobong istimewa adalah komitmen mereka terhadap konsep zero waste dalam keseharian. Gerakan ini tidak hanya dilakukan pada momen tertentu, tetapi menjadi budaya yang terus diterapkan. Hal tersebut dibuktikan dengan aksi nyata :
- Membawa kantong kain atau kantong plastik pribadi untuk sampah.
- Menggunakan tumbler atau botol minum isi ulang untuk air.
- Membawa kotak makan sendiri untuk mengurangi penggunaan kemasan sekali pakai.
Dukungan penuh juga datang dari pengelola kantin sekolah yang berkomitmen untuk tidak lagi menggunakan wadah plastik sekali pakai, menggantinya dengan pilihan yang lebih ramah lingkungan.
Penutup
Inisiatif SMA Negeri 1 Kejobong dalam merayakan Hari Kebersihan Sedunia ini adalah contoh nyata bagaimana sebuah institusi pendidikan bisa menjadi pelopor perubahan positif. Dengan menerapkan gaya hidup zero waste, mereka tidak hanya membersihkan lingkungan, tetapi juga mendidik generasi muda untuk peduli dan bertanggung jawab. Aksi ini layak menjadi inspirasi bagi sekolah dan masyarakat lain untuk bergerak bersama demi masa depan bumi yang lebih bersih dan sehat.
“Menjadikan lingkungan kita bersih bukan hanya tugas, melainkan inspirasi.”
Halaman 1 dari 12
